Berkunjung ke Hukae, Kampung Moronene



Anak Suku Moronene, di Kampung Hukaea
“Hukaea merupakan  kampung Suku Moronene yang berada dalam kawasan Taman Nasional Rawaaopa Watumohai yang membatasi Kabupaten Bombana dan Konawe Selatan. Kampung ini secara administrasi berada dalam wilayah Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara”.


Suku Moronene  adalah salah satu suku tertua yang mendiami jazirah  Sulawesi pada bagian ujung selatan Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Bombana. Suku ini merupakan  empat suku besar yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara setelah suku Tolaki, Muna, dan Wolio.   “Moronene” terdiri dari dua kata yakni “moro” yang berarti sejenis/serupa dan “nene” berarti sejenis tumbuhan pesam yang banyak dijumpai di pinggir sungai dan hidup berkelompok yang kulitnya bisa dijadikan pengikat. Orang  Moronene mempunya adat istiadat dan bahasa tersendiri sebagai alat komunikasi sehari-hari.  

 .*****
Rasa penasaranlah yang membawa saya untuk pergi mengunjungi  kampung Moronene ini. Dalam benak saya, dikampung inilah saya masih bisa menjupai orang Moronene yang masih mempertahakan tradisi dan budayanya secara turun temurun dan belum bersentuhan dengan modernitas.  Letaknya yang  terpencil,  dalam kawasan Taman Nasional serta jauh dari aktifitas perkotaan semakin menambah keyakinan saya akan kampung ini. Apalagi beberapa waktu lalu, pemerintah Kabupaten Bombana telah menetapkan Hukaea sebagai Kampung adat Suku Moronene sehingga semakin menambah rasa penasaran saya.


Palang Perlintasan memasuki Kawasan Taman Nasional Rawaaopa Watumohai
Perjalanan  saya selama  empat hari di Sulawesi tenggara, kali ini menjadikan Hukaea sebagai salah satu tujuan  yang wajib untuk saya kunjungi.  Setelah sehari menghabiskan waktu berkeliling kota Kendari, saya melanjutkan perjalanan menuju Konawe Selatan yang mengarah ke Kabupaten Bombana. Perjalanan dari Kota Kendari, saya jalani bersama rekan  dengan berkendara roda dua. Jalan berkelok di Wolasai yang sesekali diselimuti kabut,  melewati ibukota Konawe Selatan yang sedikit gelap karena lampu penerangan jalan yang padam harus kami lewati. Dua jam perjalanan sampailah kami di rumah teman yang akan menjadi tempat menginap kami sebelum melanjutkan perjalanan ke esokan harinya.

Pagi yang cerah, ditandai munculnya sinar matahari  yang hanya menampakan rona merahnya dengan gradasi biru langit yang diselimuti awan.  Dari kejauahan nampak para pekerja jalan yang sedang memanaskan mesin-mesin mobil dan siap melanjutkan pengaspalan jalan. Di semping kiri dan kanan jalan, hamparan persawahan yang siap untuk ditumbuhi padi. Saya dan teman  sejenak menikmati hawa sejuk dan dinginya udara pagi sambil duduk di pinggir jalan  yang merupakan jalan antar Kabupaten, menghubungkan Kabupaten Bombana dan  Kota Kendari . 

Perjalanan Menu Kampung Hukaea
Pukul 08.05 menit, saya dan teman ditemani dua orang yang baru saya kenal, sudah siap berangkat menuju kampung Hukaea dengan mengunakan kendaraan bermotor.  Kedua teman baru saya tersebut lah yang  akan menjadi pemandu saya menuju kampung Moronene. Jalan yang teraspal mulus dengan  trek lurus, membuat perjalanan ini  tidak terasa sehigga  kami sampai disebuah persimpangan jalan yang tidak beraspal, sedikit tertutup alang-lalang dan berlumpur.  Disamping kiri kanan jalan yang mirip jalan tani tersebut adalah padang ilalang yang sangat luas yang hanya dibatasi pegunungan yang tampak terlihat samar-samar.  Menurut teman, Jalan ini lah yang akan kami lalui untuk menuju kampung Hukaea yang berjarak 8 km dari pingir jalan perlintasan kawasan  Taman Nasional Rawa Aopa.  

Sepanjang perjalanan kami harus melewati jalan berlumpur yang sesekali terdapat kubangan air dan licin yang  Jika tidak hati-hati anda akan terjatuh, seperti yang sempat saya alami.  Saya sempat terjatuh sehinga membuat baju dan celana kami kotor. Meskipun sempat terjatuh, kami tidak patah semagat untuk terus melanjutkan perjalanan.  Saya sarankan jika berniat  berkunjung ke tempat ini sebaiknya jangan pada saat musim hujan, karena akan sangat susah  mengakses kampung ini.

Jalan Menju Kampung Hukaea
Pemandangan dalam kawasan TN. Rawaaopa
                Terik matahari seorah-olah membakar kulit  yang sudah mulai kusam dan kotor akibat terjatuh tadi sudak tidak kami pedulikan lagi.  Satu jam berkendara sampailah di kampung Hukaea. Sebelum sampai di kampung ini,  kami terlebih dahulu melewati sebuah pekuburan yang konon kabarnya adalah nenek buyut orang Hukaea. Tidak ada tugu selamat datang atau pintu gerbang yang menandakan anda sudah memasuki perkampungan ini.  Yang nampak hanya pohon-pohon  mente yang tumbuh di setiap sisi ruas jalan yang terkadang hampir menutupi bahu jalan.  Suasana kampung terasa   sepi, hanya sesekali saya mendapati anak-anak sedang bermain di pinggir jalan.   Rumah-rumah agak  berjarak dari satu rumah ke rumah lain yang jaraknya kisaran 20-50 meter.  Saya memperhatikan dibeberapa rumah-rumah warga  terdapat pintu gerbang yang berbentuk atap rumah yang terbuat dari atap rumbia. Hal ini menunjukan identitas warga disini bahwa mereka adalah orang Suku Moronene.

Di depan pintu Gerbang rumah Orang Moronene
          Setelah melewati beberapa rumah, tibalah kami di sebuah warung untuk membeli air minum sekaligus beristrahat sejenak.  Melihat kami sebagai orang baru di Kampung ini, dengan ramahnya sang penjaga warung mempersilahkan kami masuk kerumahnya yang berbentuk rumah batu yang beralaskan semen dan beratapkan seng tersebut. Kami  masuk kerumah sang bapak yang sehari-harinya bekerja sebagai pengrajin kayu dan berdagang tersebut. Kami sempat berbincang sebentar. Dari perbincangan kami tersebut,  kami mendapati bahwa orang Hukaea menyebut  kepala kampung mereka  sebagai “tobu”.  Setelah itu sang bapak menunjukan letak rumah “tobu” yang jaraknya kisaran 100 meter dari rumahnya.
Rumah "Tobu"

Dengan berkendara, sampailah kami di rumah  “tobu” yang berbentuk rumah panggung tersebut.  Sedikit berbeda dengan rumah lainnya.  Atap rumah “tobu” terbuat dari alang-alang yang telah di anyam.  Rumah panggung tersebut sangat sederhan yang  hanya  beralaskan papan dan tikar. Dengan senang hati kami diterima oleh “tobu” beserta istrinya.  Tanpa basa basi  kami  berempat langsung memperkenalkan diri sekaligus memberitahukan maksud dan tujuan  kami ke  kampung ini.   Hampir sejam kami tempat ini,  sang “tobu” banyak bercerita tentang asal muasal Kampung Hukaea sebagai kampung tertua suku Moronene di daratan Sulawesi Tenggara, Serta bagaimana mereka terusir dari kampung mereka kerana di angap menyebot masuk dan tinggal di dalam kawasan Taman Nasional sehingga menyebabkan sang “ tobu” dan beberapa warga lainnya masuk penjara.

"Tobu" bersama Istrinya
Menurut sang ‘Tobu” Hukaea berasal dari bahasa Moronene yang terdiri dari dua suku kata yakni  Huka : pohon melinjo dan ea : besar. Konon kabarnya pohon tersebutlah yang menjadi tempat persembuanyian orang-orang Moronene dari gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzzakar.  Lanjutnya lagi, ada aturan adat di masyarakat Hukaea yakni jika seorang perempuan hukaea kawin dengan laki-laki diluar orang hukaea maka mereka tidak boleh tinggal di kampung hukaea. Dan jika laki-laki orang hukaea kawin dengan perempuan diluar orang hukaea mereka boleh tinggal di kampung hukaea.  Saat ini Hukae  terbagi dua yakni Hukae dalam dan Hukae Luar. Menurutnya, adanya dua kampung Moronene ini akibat dari relokasi yang dilakukan pemerintah yang melarang masyarakat tinggal dalam kawasan Taman Nasional. Sehingga orang-orang Hukae harus terusir dari Kampung mereka yang sudah turun temurun mereka diami. Orang-orang yang masih tinggal di dalam kawasan inilah yang masih bertahan dan memilih tetap tinggal di tempat ini. 

Rumah  orang Hukaea
Dari hasil pengamatan dan penelusuran saya disetiap sudut kampung yang berbentuk leter U dengan jumlah penduduk lebih dari seratus kepala keluarga ini, nampak terlihat sepi. Mungkin karena rumah yang agak berjarak sehingga tidak nampak aktifitas Masyarakatnya. Saya perhatikan sebahagian masyarkatnya masih hidup  sederhana dan sebahagiannya lagi sudah sedikit moderen. Saya sudah menjumpai kendaraan bermotor dan traktor yang digunakan untuk menggarap sawah di Kampung ini. Yang tinggal dikampung ini juga sudah tidak seutuhnya orang Moronene, seperti bapak yang saya jumpai yang berasal dari Kab. Soppeng Sulawesi Selatan.  Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani dengan mengarap sawah tada hujan. Pada umumnya beragama Islam. Ditengah-tangah kampun terdapat sebuah rumah  yang dibagun pemerintah setempat sebagai simbol rumah adat orang Hukaea. Tidak jauh dari tempat tersebut terdapat Sekolah Dasar yang hanya berdidinkan kayu.  Yang unik dari kampung ini adalah makanan pokok masyarakatnya  adalah “ondo” sejenis umbi hutan yang beracun yang banyak di jumpai di hutan-hutan.
Anak-anak Hukaea yang baru Pulang Mencuci

"Ondo" yang ditumbuk , sebagai makanan Pokok

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.00 wita, saya bersama ketiga rekan saya pamitan ke Kepala Kampung. Namun sebelum itu,  kami harus menigisi buku tamu yang telah disiapkan. Rintik hujan tidak  menyurutkan kami untuk segera meninggalkan kampung ini kembali ke rumah teman,  kemudian saya bersama teman seperjalanan saya melanjutkan perjalanan  menuju Kasipute, Ibukota Kabupaten Bombana.

Mengenal lebih dekat Ikan Nemo

                                 
"Mempunyai warna yang cerah dengan pola dan corak yang menarik. Ukuran  tubuhnya berukuran kecil seperti halnya dengan ikan sebangsanya. Sesekali mereka akan menghapiri kita, seolah-olah mengajak untuk bermain bersama mereka. Mempunyai perilaku yang pemalu namun mengemaskan. Pada umumnya mereka hidup berkelompok dan sangat mengantungkan hidupnya dengan  hewan laut  lainnya. 

Ikan Nemo merupakan makhluk yang hidup di laut yang paling terkenal dikalangan masyarakat. Jika kita disuruh menyebut salah satu  biota di laut, maka yang langsung terbesit dikepala salah satunya adalah ikan nemo. Apalagi setelah ikan ini  di kisahkan dalam filem animasi yang berjudul "Finding Nemo" yang dirilis di tahun 2003 dan sampai sekarang masih sering diputar dibeberapa stasiun TV nasional. Begitu terkenalnya ikan ini, salah seorang teman, yang  awalnya tidak begitu tertarik dengan laut, tiba-tiba datang ke saya dan pengen  belajar menyelam.  " Wee...ajari ka' dulu menyelam ehh... mau ka' liat itu ikan nemo di dalam laut. Seperti apa itu perilakunya kalo di dalam laut. Apakah seperti yang diceritakan di filem nemo itu" tuturnya dengan logat bahasa Makassarnya. 

Ikan nemo masuk dalam kategori ikan hias yang bernilai ekonomis. Ikan ini sudah di perdangkan, bahkan di ekspor  sampai  ke luar negeri. Akibat permintaan pasar yang besar, di  beberapa wilayah di Indonesia, beberapa spesies dari ikan ini   mulai terancam keberadaanya akibat ekspolitasi yang berlebihan. Ikan yang hanya beraktifitas di siang hari ini, sangat mudah  dijumpai tanpa harus susah payah melihatnya langsung di habitat aslinya di laut. Di rumah, di perkantoran dan bahkan fasilatas umum seperti  bandar udara  yang mempunyai  akuarium laut, dapat melihat ikan ini terkurung  bersama biota laut lainnya.

Dikalangan pencinta ikan hias, Ikan ini menjadi target buruan untuk dijadikan penghuni akuarium.  Bagi para penyelam yang hobi  fotografi bawah laut, nemo merupakan salah satu  biota faforit  untuk  selalu masuk dalam bidikan lensa kamera mereka. 
*****

Ikan Nemo mempunyai beberapa penamaan popular sehingga terkadang membingungkan.  Dikalangan pencinta ikan hias, ikan ini biasa disebut ikan badut atau ikan giru.  Para penyelam menyebutkan ikan nemo karena ikan ini  hidup bersimbiosis dengan rumahnya yakni anemon. Dikalangan Peneliti ikan ini lebih dikenal dengan sebutan  Clown fish atau ikan amphiprion.

Menurut Gerry Allen, Salah seorang peneliti dibidang kelautan menyebutkan bahwa ikan nemo mempunyai duapuluh sembilan jenis yang penyebarannya sangat terbatas. Hanya dapat dijumpai di kawasan Indo Pasifik.  Kuiter dan Tonukoza dalam bukunya Indonesia reef fishes menyebutkan bahwa: jenis ikan ini hanya  terdapat duabelas jenis yang tersebar diseluruh perairan Indonesia. 

 
Jenis-jenis ikan nemo yang dapat dijumpai di Indonesia

Dalam Klasifikasi taksonomi, ikan nemo merupakan keluarga dari  ikan-ikan damselfish atau ikan Batok.  Terdiri dari dua marga  yakni  Amphiprion dan Premnas. Pembeda dari kedua marga ini  yang peling mencolok secara kasat mata adalah terdapatnya dua buah duri memanjang  di bawah mata  ikan premnas  sedangkan amphiprion tidak mempunyai duri. Selain itu,  Premnas ukuran tubuhnya  relatif lebih besar dibandingkan  dari jenis ikan amphiprion. Dari duapuluh sembilan jenis ikan nemo yang terindetifikasi , dupuluh delapan adalah sepesies dari Amphiprion dan hanya satu spesies dari  Premnas .

 Di alam bawah laut, Clownfish menghuni  dasar laut di area terumbu karang dan substrat pasir dikisaran kedalaman satu sampai tiga puluh meter. Ikan ini dapat dijumpai  hidup dicelah-celah tentakel anemon yang menjadi rumahnya. Clownfish melakukan simbiosis mutualisme yang sama-sama saling menguntungkan dengan anemon.  Dapat dikatakan bahwa ikan nemo tidak dapat hidup tanpa anemon dan begitupun sebaliknya. Keuntungan dari simbiosis ini adalah Ikan nemo dapat terhindar dari pemangsaan dari predatornya dan mendapatkan sumber makanan dari anemon. Sedangkan Anemon diuntungkan dengan pergerakan nemo yang terus menerus disela-sela tentakelnya, menyebabkan kotoran dan endapan pasir teraduk sehingga anemon terhindar dari iritasi. Selain itu, membantu anemon dalam proses foto sintesis.

Ikan nemo dan anemonnya
 
Ikan Nemo mempunyai perilaku  dengan menghabiskan sebahagian besar hidupnya di celah-celah tentakel anemon  dan  di sekitaran anemon.   Wilayah tersebu merupakan  daerah teritorialnya dan mereka akan mempertahankan dari predator dan  hewan penggangu lainnya.  Jika anemon berpindah tempat maka mereka  juga ikut berpindah tempat. 

Ikan Nemo berkembang biak dengan cara bertelur.  Telur-telur ikan ini disimpan di bawah tentakel anemon atau di substrat dimana anemon melekat. Sekali bertelur dapat mencai tigaratus sampai tujuhratus butir telur. Selam dalam proses bertelur, ikan jantan bertugas  penuh untuk memelihara dan menjaga sarang dan telur.  Sementara itu,  induk betina berkelana untuk  mencari makan dan hanya sesekali saja menyinggahi sarangnya. Ikan nemo dalam kondisi tertentu mengalami perubahan kelamin. Umumnya ikan ini hidup berpasangan dengan satu jantan dan satu betina. Namun jika sang jantan mati  maka satu ekor dari betina dewasa akan berubah kelamin menjadi jantan dewasa baru. Begitupun sebaliknya. 

Ikan nemo dan telur-telurnya. foto diambil dari internet
Tentang Anemon

Anemon adalah hewan laut dan dalam klasifikasi taksonomi  termasuk dengan kelas Anthozoa bersama dengan terumbu karang.  Anemon  dapat dijumpa hidup dicelah-celah karang dan substrat berpasir.   Lebih dari seribu sepesies   yang tersebar di seluruh perairan laut di dunia. Dari sekian banyak spesies tersebut, tidak semua  menjadi habitat bagi ikan nemo.  Hanya terdapat beberapa  spesies ikan ini yang dapat didiami oleh ikan nemo.

 Anemon mempunyai racun yang disematkan ditentakelnya yang menjadi senjata dari pradotornya. Kadar racun masing-masing anemon berbeda-beda,  tergantung jenis anemonnya sehingga clownfish tidak dapat hidup disemua jenis anemon. Salah satu dari jenis ikan ini yakni Amphiprion clarkii merupakan spesies yang paling banyak dijumpai hidup dibeberapa jenis anemon. Hal ini disebabkan karena jenis ikan ini dapat menghasilkan lendir sendiri  yang membungkus tubuhnya sehingga dapat melindunginnya dari segatan anemon.  Untuk  merasakan kadar racun anemon, kita dapat mencoba menyentuh tentakelnya dengan lapisan kulit bagian luar. Kulit akan terasa  seperti tersengat dan melengket di tentakel anemon. Bahkan ada beberapa jenis anemon seperti heteractis aurora  mempunyai kadar racun yang tinggi, sehingga jika tersengat  lapisan kulit bagian luar maka  kulit akan melepuh seperti terbakar.
Beberapa jenis anemon yang menjadi rumah bagi ikan nemo

 Tidak hanya ikan nemo  yang hidup berasosiasi dengan anemon.  Ada beberapa jenis makhluk lainya yang bersimbiosis dengan anemon seperti  Ikan-ikan batok dari jenis  dasylus, kepiting dan udang. Terkadang kita dapat menumukan makhluk-makhluk laut tersebut hidup berdamping dalam satu jenis anemon dan mereka tidak merasa terganggu satu sama lainnya.
Biota laut lain yang hidup berasosiasi dengan anemon


                 

Cantiknya Sunset di Pulau Kabaena

Salah satu pesona keindahan alam yang selalu menarik setiap orang untuk menyaksikannya adalah  terbenamnya matahari di ufuk barat atau  yang biasa disebut sunset. Terbenamnya matahari ini, menandakan terjadinya pergantian waktu dari siang ke malam. Sunset  selalu menjadi pemandangan yang selalu ingin dicari dan diburu oleh setiap orang yang senang dan suka akan pesona keindahan alam. Rona warna yang dipancarkan dengan bulatan matahari menjadi daya tarik ciptaan Tuhan tersebut.




Indonesia sebagai sebuah Negara kepulauan yang ber iklim tropis adalah surga untuk menyaksikan sunset. Setiap wilayah di Indonesia yang memiliki pesisir pantai bagian barat dapat menyaksikan fenomena alam tersebut. Tidak terkecuali Pulau Kabaena yang merupakan sebuah pulau daratan besar, berdekatan dengan pulau Buton dan pulau Raha yang bercirikan alam pegunungan dan perbukitan dengan luas wilayaah 87 km persegi.

Secara administrasi Pulau Kabaena masuk wilayah pemerintahan Kab. Bombana, provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau dengan ketinggian gunung 1800 m dpl ini banyak dihuni masyarakat yang tinggal di pesisir barat pulau. Letaknya yang strategis sehingga pulau ini sangat mudah diakses. Banyak  jalur untuk menuju kesana,  yakni dari kendari menuju rumbia (ibukota Bombana), dari Kota Bau-bau atau dari tanjung bira, Kab. Bulukumba. 

Perjalanan saya kali ini  ke Kabaena dengan  naik pesawat dari Makassar menuju Bau-bau. Kemudian  melanjutkan perjalanan laut  dengan mengunakan kapal cepat menuju desa Batuawu di Pulau Kabaena selama 2 jam. Semuanya dapat ditempuh dalam sehari.

Bagi saya, yang namanya sunset pasti akan selalu  sama  disetiap daerah, yang membedakannya hanyalah view  dimana kita melihat terbenamnya matahari tersebut. Hal ini lah yang membedakan dan menjadi ciri khas masing-masing daerah.  


Sunset di Pantai Lanere



Perjalanan saya mengelilingi Pulau Kabaena di mulai dari Desa Batuawu. Desa  yang terletak di pesisir barat bagian selatan pulau Kabaena ini, mempunyai beberapa spot untuk untuk menyaksikan matahari terbenam. Berjalan sedikit mengarah ke laut terdapat sebuah dermaga  yang panjangnya kisaran 300 meter. Di dermaga tersebut, kita dapat meyaksikan sunset dari celah-celah tiang dermaga yang terbuat dari kayu. Juga,  dapat menyaksikan panorama alam tersebut dari atas dermaga yang terbenam di antara pulau Vakao dan Pulau Sagori. Hanya beberapa meter dari dermaga, terdapat perkampungan suku Bajo dengan deretan rumah-rumah tiang yang berdiri kokoh diatas permukaan laut. Kita dapat menyaksikan sunset dari balik rumah-rumah tersebut. Masih Didesa batuawu, Tepatnya di pantai lanere. Bagusnya menyaksikan sunset disini  bisa sambil duduk-duduk di gazebo atau sekadar bermain pasir putih Lanere yang agak kekuningan. Tentunya sangat mengasyikan bila  detemani  pasangan atau sahabat.

Sunset di perkampungan bajo, Batuawu


Ke esokan harinya, tempat yang saya datangi adalah desa Pongkalaero yang jaraknya tujuh kilometer dari desa Batuauwu. Desa ini merupakan desa paling ujung di bagian barat pulau Kabaena. View yang bagus untuk menyaksikan sunset terdapat di sebuah dermaga kayu yang panjangnya kisaran 300 meter. Ditempat ini kita bisa menyaksikan matahari terbenam sambil melihat aktifitas nelayan  yang pulang atau akan pergi melaut.

Sunset di Desa Pongkalero
Hari ke-3 di Kabaena, perjalanan berikutnya adalah menuju  Desa Tangkeno. Desa ini merupakan desa yang wajib dikunjungi jika ke Kabaena yang telah ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah Bombana. Letaknya yang  berada di ketinggian di 1500 m dpl ini, mempunyai pesona keindahan alam yang sangat menakjubkan dengan suasana alam pedesaan dan pegunungan. Di Tangkeno, kita bisa naik kesebuah perbukitan yang kini telah di ratakan dan dibuat seperti taman bermain. Di lokasi inilah tempat yang sangat pas untuk menyaksikan sunset dari balik gunung kars batu Sangia dengan ciri khas gunung kembarnya. Selain itu, di tempat ini kita bisa melihat desa Tangkeno dari atas ketinggian.


Sunset didesa Tangkeno

Desa Tangkeno


Perjalanan terakhir saya di Kabaena adalah di Kelurahan Sikeli dan Baliara.  Di Sikeli, tempat yang pas untuk menyaksikan sunset  adalah di perkampungan Suku Bajo. Di tempat ini, kita dapat melihat sunset diantara jejeran-jejeran rumah panggung yang hanya dihubungkan oleh jembatan di atas permukaan air. Dari kejauan matahari semakin meredupkan sinarnya dan kemudian pelan-pelan menghilang dari balik pulau Motaha yang merupakan salah satu gugusan pulau kecil di Kabaena. Tidak jauh dari Sikeli,  terdapat perbukitan tandus yang sering  disebut bukit teletabis oleh warga Kabaena. Terletak di kelurahan Baliara, Kabaena Barat. Dari atas perbukitan ini kita dapat melihat dengan jelas bulatan matahari dengan pancaran sinarnya yang berwarna kemerahan yang sesekali terdapat kapal nelayan yang melintas.

Sunset di Perkampungan Bajo Sikeli


Berkunjung ke Pulau Kabaena tentunya tidak cukup satu dua hari untuk dapat mengelilinginya dan menikmati keindahan alamnya. Waktu saya yang terbatas, sehingga saya harus mengakhiri petualangan saya selama empat hari. Tentunya, ini masih sebahagian kecil dari pesona keindahan alam pulau Kabaena. Masih banyak lagi tempat-tempat  yang menunggu untuk di eksplore di Kabaena. Sooo….!  mari berkunjung  dan jadikan Pulau Kabaena sebagai tujuan berwisata anda.