Sebuah Kisa Dari Perjalanan Menuju "Negeri di Awan" Tangkeno


Perjalanan ini sebenarnya tidak begitu terencana dengan baik, alias dadakan ;D…. Saya bersama teman-teman yang pagi itu baru pulang dari Pulau Sagori, kemudian kepikiran untuk pergi ke desa Tangkeno.  Untuk saya sendiri memang sudah ada dalam lists  obyek-obyek wisata yang saya akan kunjungi selama berada di pulau yang kaya akan bahan galian nikel ini. Selain itu, rasa penasaran akan perkembangan desa Tangkeno, apalagi setelah  di tetapkan sebagai desa wisata dan setelah  dua tahun lamanya tidak berkunjung kesana.   Saya yang tinggal di perantauan ini, harus memanfaatkan waktu dengan baik karena  hanya sekali dalam  setahun saya bisa mudik ke kampung, Itu pun hanya pada saat lebaran.  Mumpung ada kawan sekampung yang senasip dengan saya dan suka traveling, ide ini pun saya tawarkan.

Sebelum cerita ini saya lanjutkan terlebih dahulu saya mau menggambarkan tentang Desa tangkeno….:D

Desa Tangkeno
Desa Tangkeno menarik untuk dikunjungi karena merupakan sebuah perkampungan yang terletak di kaki gunung Sabampolulu di atas ketinggian 1500 meter dari permukaan laut. Desa ini berada dalam wilayah administrasi kecamatan Kabaena Tenggah dengan ibukota kecamatan Lengora. Ketika anda berada disana, anda  akan  menyaksikan panorama alam pegunungan  serta  merasakan hawa sejuk dan dinginnya suhu udara disana.  Tangkeno  juga merupakan kampung tertua dan pertama  di Kabaena yang dihuni oleh suku etnis Moronene Kabaena, sehingga budaya dan seni tradisi masih terjaga dari pengaruh budaya moderen. Terdapat juga sebuah situs sejarah berupa benteng pertahanan dan sebuah air terjun yang tingginya mencapai 180 meter. Desa ini juga telah ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah Kabupaten Bombana baru-baru ini.

Lanjut cerita….!!! ;D
Pulau Sagori
Kunjungan ke Pulau Sagori yang hanya sekitar 2 jam lamanya, menyisakan raut wajah penuh kebahagiaan dan rasa terpuaskan melihat hamparan  pasir putih Pulau Sagori yang oleh sebagian teman saya ada yang baru menginjakan kakinya di  pulau yang sangat eksotis tersebut.   Sambil membalikan motor untuk mengarah pulang ke rumah masing-masing, seketika itu pun tawaran saya di ia kan oleh mereka.  Singkat cerita…  kemudian kami janjian untuk berkumpul di rumah Okto  tepat pada pukul 10.00.

Inidia wajah teman2 perjalanan ke Tangkeno ;D 

Waktu yang di nanti pun tiba…!!! setelah teman-teman berkumpul semua, lalu bergaslah kami  menuju ke dasa wisata tersebut dengan mengunakan tiga buah kendaraan bermotor dan saling berboncengan dari desa Batuawu.  Ohh iya, teman-teman saya yang ikut perjalanan ini  yakni Arief, Okto, Ulu, Sadril dan satu-satunya wanita yang ikut yakni Rian manggada ndoka..di Facebooknya..…hehehe…
Ini dia Kampung kami Desa Batuawu...
Perjalanan  kami dari desa Batuawu terasa bigitu mulus karena kondisi jalan yang  ter aspal. Namun sampai di sebuah jembatan dekat pendakian (masih di wilayah desa Batuawu) kondisi jalan sudah berubah menjadi jalan berkerikil.  Menurut kawan saya Ulu, kondisi jalan seperti ini lah yang akan kami lalui sepanjang perjalanan menuju Tangkeno. Bisa dibayangkan kann..betapa capeknnya nanti kami…apa lagi klo ada kendaraan lain di depan, beuhhh….!!! Debunya minta ampunn….;D.  Sebenarnya ada alternatif jalur untuk capat menuju ke Tangkeno yakni dari Batuawu memotong jalan menuju desa Olondoro lalu ke Tangkeno. Jalan ini baru dibuka oleh salah satu perusahaan tambang di Kabaena. Namun menurut kawan saya Ulu, jalan tersebut sangat mendaki sekali, sehingga saya memutuskan tidak mengambil alternatif  tersebut mengingat motor yang sudah tua!!! Kan kasian, takutnya ndak kuat mendaki…heheheh!!!!

10 menit berkendera,  lalu kami memasuki sebuah perkampungan yang  bernama  desa Langkema.  Disini kami harus terpisah karena Arif dengan boncengannya Okto harus singgah terlebih dahulu kerumah kepala Desa untuk mengantarkan surat  pemberitahuan halal bi halal di desa Batuawu nanti yang akan dihadiri oleh wakil bupati Bombana.  Saya dan Ulu selaku yang membonceng lalu memperlambat laju kendaraan dengan harapan mereka bisa menyusul kami di  jalan nantinya. Tidak lama melewati Langkema,  kemudian kami  memasuki sebuah perkampungan yang bernama Kelurahan Teomokole dengan melewati sebuah jembatan penyebrangan sungai lakambula. Lalu tidak lama berselang  Arief dan okto akhirnya bisa menyusul kami dari belakang.
Desa Langkema...
Jembatan penyebrangan sungai Lakambula di Teomokole..
Setelah melewati rumah-rumah penduduk di Teomokole,  jalan sudah agak mulai  mendaki dan agak berkelok-kelok, sehingga kami harus ekstra hati-hati karena di sisi kanan ruas jalan adalah jurang. Selain itu, menurut penuturan Arif yang sering ke sana, jalanan  rusak dan  berlubang  akan kami lalui sepanjang perjalanan sampai ke Tangkeno.  15 menit kami berkendara setelah melewati Teomokole,  lalu  kami memutuskan untuk singgah istrahat sebentar  di sebuah jembatan yang terdapat air terjun di sampingnya. Arif langsung berceletuk kepada saat itu dengan bahasa kabaenanya “diem da monehako vata roda” yang artinya bahwa ini lah tempat yang di sebut vata roda itu. Sontak saya agak terkejut… dan berucap mengunakan bahasa kabaena “ahh..kua bara”!!!...mengingat waktu kecil sering mendengar cerita mistik tentang keangkeran tempat ini.
Singgah beristraha di "vata roda"
Air terjun "vata roda"
  Sambil mendinginkan motor  yang kondisinya sudah melai berasap dan terkadang pada saat mendaki tadi, mulai mengeluarkan api dari knalpotnya sehingga sepanjang jalan menjadi bahan ejekan dan ketawaan Arif, Okto, Ulu dan Rian. Di tempat ini,  Ulu dan Rian sempat membasuh wajahnya di sungai kecil tersebut yang sudah mulai kusam karena debu. Sedangkan si Okto, Arief dan Sadril berdiri sambil merengangkan badannya.

Desa Rahadopi
Desa Sampala Kambula
15 menit beristrahat,  lalu kami  melanjutkan perjalanan lagi. Pendakian dan kondisi jalan yang rusak masih menjadi hambatan kami. Tidak lama berkendara, kemudian  kami memasuki sebuah perkampungan yang disebut desa Rahadopi.  Sepintas saya perhatikan di sisi kanan kiri ruas jalan terlihat aktifitas masyarakat yang sedang menjemur cengkeh di depan rumah masing-masing. Terbesik dalam hati…wahh sungguh kayanya warga disini..!!!. Berselang 10 menit  setelah melewati desa Rahadopi kemudian kami memasuki parkampungan lagi yakni desa Sampala kambula. Sepintas diperhatikan  aktifitas masyarakatnya hampir sama dengan yang di Rahadopi yakni sedang menjemur cengkeh didepan rumah masing-masing.
Cengkeh yang sedang dijemur...

 Setelah melewati kedua desa tersebut, tentunnya desa terakhir yang akan kami tuju adalah desa Tangkeno. Dari kejauah desa ini sudah samar-samar terlihat, karena letaknnya yang berada di atas ketinggian.  Namun sudah hampir 20 menit kami berkendara belum sampai-sampai juga. Sadril yang saya bonceng mulai bertanya…Kapan sampainya kita ini?. Maklum, selain badan sudah mulai pegal dan pantat mulai tepos..;D mungkin karena dia ndak sabaran  meliat Tangkeno. Entah lahh…mungkin karena jalan yang berkelok  dan mendaki sehingga perjalanan ini agak  terasa lama.
Foto dulu didepan pitu gerbang Tangkeno
Lama berkendara, akhirnya kami sampai juga di Desa Tangkeno dengan disambut sebuh pintu gerbang yang bertuliskan “selamat datang di Wonua  Tangkeno”. Hawa sejuk dan dinginnya udara mulai terasa disini.  Kami sempat berhenti sejenak  untuk berfoto-foto  sambil merengangkan badan yang sudah mulai encok.  5 menit istrahat, lalu kami pelan-pelan memacu motor kami dengan kondisi jalan yang sedikit mendaki. Untung pada saat mulai masuk keperkamupungan jalan  sudah di rabat beton sehingga pendakiannya lancar.  Kemudian sampai lah kami  di titik tujuan sementara yakni rumah kepala desa Tangkeno. Kebetulan rumah kepala desanya terletak di sampaing balai pertemuan yang luas halamannya, sehingga kami leluasa memarkir motor.
Memasuki halaman rumah Kepala Desa
Ohh iya..jika anda inggin berwisata ke Tangkeno, saya sarankan sebaiknya terlebih dahulu meminta izin ke Kepala desa atau aparat desa setempat. Selain itu, disini juga telah disiapkan jasa pemandu lokal  yang siap mengantar anda berkunjung  kebeberapa obyek wisata dan menceritakan  tentang kisah desa Tangkeno atau Kabaena pada umunya.

Halama Kantor  Kepala Desa Tangkeno

Suasana ramai di depan teras  kami dapati di depan rumah sang kapala desa yang terbuat dari rumah kayu beralaskan semen tersebut.  Okto lalu menghampiri salah seorang warga yang sedang duduk dikursi  sambil memberi salam kemudian menanyakan keberadaan kepala Desa. Dengan raut wajah tersenyum lalu    dijawab bahwa kepala desa ada didalam. Dipersilahkanlah kami masuk dan langsung menuju ruang tamu. 
Dirumah Kepala Desa
Kawan saya Okto sangat dikenal baik disini, selain  karena merupakan asisten ibu Bupati Bombana, dia juga merupakan seorang master of  ceremony (MC) acara resmi maupun tidak resmi di lingkup pemerintahan Kab. Bombana.  Belum lama ini juga pernah ke Tangkeno mengisi acara pagelaran seni & budaya masyarakat Kabaena.   Kebetulan juga  Ari yg juga anak sang bapak kepala desa ini,  merupakan kawan saya dan Arif sewaktu kuliah di Makassar dulu, sehingga kami tidak merasa canggung dan asing di tempat ini.

 Asik ngobrol dengan kepala desa, datanglah Juli adik Ari  dari Sikeli bersama mamanya sehingga menambah serunya cerita.  Entah mungkin karena masih suasana lebaran, dan waktu sudah menunjukan pukul 12.00, lalu  kami pun di ajak ke dapur oleh mamanya Ari   untuk mencicipi hidangan makanan yang telah di siapkan.  Setelah selesai makan,  saya, arif, okto, ulu, sadril dan rian pun bergegas ke ruang tamu. Berselang 5 menit  kami duduk di kursi sofa, lagi-lagi kami dihidangkan masing-masing secangkir  kopi dan teh. Sungguh  kami sangat berterima kasih sekali  bisa disambut dengan sangat baik dengan penuh kekeluargaan oleh keularga besar Ari.
Makan siang dirumahnya Ari

Pada saat asik bercerita, tiba-tiba pandangan saya tertuju di dinding yang memajang foto-foto keindahan alam dan aktifitas masyarakat desa Tangkeno. Menurut bapak kepala Desa yang juga merupakan ketua Lembaga Adat Moronene di Kabaena ini, Foto tersebut merupakan hasil karya  dari beberapa fotografer yang telah berkunjung ke desa Tangkeno dan di pamerkan pada saat musyawarah adat beberapa lalu.  Dari sekian banyak foto yang saya perhatikan, mata saya tertuju di salah satu foto yakni air terjun. Maklum saya belum pernah melihatnya selama berada di Kabaena. Lalu saya menanyakan keberadaan air terjunt tersebut.  Dari hasil penuturannya, Ternyata air terjun tersebut masih berada di wilayah Tangkeno dan jika menuju kesana harus berjalan kaki selama 4 jam lamanya. Dalam hati pun berkata wahhh….jauh juga ternyata!!.  Air terjun yang diberi nama “Tondo paa no” tersebut merupakan mata air dari sungai lakambula yang membelah pulau Kabaena. Menurutnya lagi,  air terjun tersebut mempunyai ketingian sekitar 180 meter. Mengingat dibutuhkan  persiapan yang matang untuk menuju ke air terjut tersebut, sehinggah saya berjanji dalam hati  suatu saat nanti saya akan balik lagi kesini dan  pergi ke air terjun tersebut . Selain itu hal yang belum kesampaian juga  adalah naik di atas puncak gunung Sabampolulu.
Foto air terjun ...

Saya sangat beruntung pada hari itu karena bisa menyaksikan salah satu prosesi adat perkawinan masyarakat kabaena yakni “morongo kompe”. sambil berkata dalam hati juga, kapan yahh..!!  saya dibuatkan prosesi adat  seperti itu juga  hehehehe….:D.  Setelah minim kopi, lalu saya beranjak dari kursi  sambil  meminta izin untuk pergi memotret prosesi adat perkawinan tersebut  di ditemani Juli yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya.  Dengan berjalan kaki,  kami menuju rumah yang di maksud. Di sana, sudah rame warga dan keluarga mempelai laki-laki  yang akan mengatar sang pengantin sambil mebawa hasil bumi yang di masukan kedalam “kompe” seperti pisang, beras, tebu, kelapa buah pinang dan lain-lain menuju balai pertemuan tempat proses adat perkawinan di laksanakan.
Morongo Kompe

Setelah menyaksikan prosesi tersebut, Sambil  ditemani Ari dan Juli , lalu kami menuju ke  benteng yang tersusun dari batu-batu kali yang berbentuk segi empat yang oleh masyarakat setempat disebut benteng Tuntu tari.  Jaraknya yang agak jauh dari perkampungan sehingga kami harus berkendara menuju kesana.
Pemandangan pada saat Menuju Benteng

Untuk menuju benteng Tuntu tari,  jalan agak sedikit mendaki dan sempit sehingga butuh ke hati-hatian yang ekstra.  Sebelum menuju kesana, kami terlebih dahulu singgah membayar retribusi Rp. 5.000/permotor disebuah pos penjagaan. 10 menit berkendara, kami pun sampai di tempat yang dimaksud dengan memarkir motor pas di kaki benteng,  Di sini, ternyata sudah ada beberapa wisatawan lokal yang sedang asik menikmati pemandangan.
Ini dia Benteng Tuntu tari
Melihat gunung Sabampolulo dari dekat...
Pemandangan dari atas benteng
Dari atas benteng  kita dapat menyaksikan gunung kars batu Sangia dari dekat, gunung sabampolulo, birunya laut pulau kabaena dengan beberapa hamparan pulaunya serta beberapa perkampungan di kabaena.  Pemirsa..!!  janganlah  banyangkan benteng ini seperti benteng Murhum di Buton sana. Benteng ini relatif sangat kecil dan berbentuk segi empat.  Ditengah benteng terdapat sebuah pohon beringin berukuran besar  yang hampir menutupi benteng tersebut  sehinggah anda akan terhindar dari sengatan matahari. Dibenteng ini juga terdapat beberapa makam, entah makamnya siapa..wallahu alam…. Di tempat ini, mata saya agak terusik melihat sampah yang berserakan yang dibuang sembarang oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, sehingga sedikit menggangu kenyamanan karena terlihat kotor.
Suasana dalam benteng pada saat berkunjung...

Hampir dua jam kami berada di sini dan waktu sudah menunjukan pukul 14.00, kemudian kami bergegas turun dari benteng tersebut. Namun, terlebih dahulu  kami singgah di sebuah  tempat pembuatan gula merah “ponahu gola” yang jaraknya tidak jauh dari benteng. Namun karena tidak bertuan sehingga kami tidak bisa lama-lama. Hanya Ulu dan Rian hanya sempat minum air gula yang belum masak tersebut. Kemudian  kami melanjutkan perjalanan  lagi pergi ke sebuah rumah belajar yang baru bangun dan diresmikan oleh Bupati. Menurut Ari, bentuk desain rumah panggung  ini mengambil bentuk rumah orang kabaena pada zaman dahulu yang termuat dalam buku salah seorang peneliti Belanda.   Teriknya matahari seolah-olah tidak terasa disini, karena dinginnya suhu udara sehinggah membuat kami betah berleha-leha sambil menyaksikan pemandangan kars batu sangia dari dekat.  Bahkan kami sempat tertidur pulas di rumah ini.
Singgah minum gula aren

Ini dia rumah belajar...
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 kami pun bergegas mininggalkan rumah belajar ini lalu menuju ke rumah bapak kepala desa sekaligus meminta pamit pulang dan mengucapkan banyak terima kasih atas sambutannya dan  khusus Ari dan Juli , makasih telah mengantar dan menemani kami selama berada Tangkeno. Thaks buat kawan-kawan saya Okto, Arif, Sadril, Ulu dan Rian  yang telah ikut dalam perjalanan ini. Mudah-mudah suatu saat nanti kami akan bareng-bareng lagi pergi mengunjungi obyek wisata lainnya yang ada di Pulau Kabaena. 

Indahnya Pulau Kabaena

Kabaena kampo tangkeno,  kampo da moico hawano, kamponti nonto mokondoo ira mbue-mbue to da meriou, polihe eapo aruane itahi..inonto ea pulau sagori…. Sepenggal lirik lagu berbahasa kabaena itulah yang dapat menggambarkan keindahan alam Pulau Kabaena.

Pulau kabaena sendiri merupakan sebuah pulau daratan besar dan berpenghuni dengan luas wilayah 873 km2. Terletak di bagian tenggara pulau Sulawesi dan masuk wilayah administrasi kabupaten Bombana. Pulau ini identik dengan panorama  alam  pegunungan dan perbukitan dengan puncak gunung tertinggi yaitu gunung Sabampolulo diatas ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut.
Akses untuk menuju pulau ini relatif tidak sulit. Ada beberapa alternatif  jalur dapat ditempuh menuju kesana. Anda bisa melalui jalur darat dari Kendari ke Rumbia dan kemudian melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau kabaena. Jalur laut dari Kota Bau-Bau menuju Kabaena atau dengan menumpang kapal very dari Tanjung Bira, Bulukumba Sulawesi selatan.
Sesampainya di Kabaena anda dapat menginap di beberapa penginapan yang ada di Sikeli atau menginap di beberapa rumah penduduk.  Adapun obyek wisata yang dapat di kunjungi adalah :

1.          Desa Tangkeno

Desa ini terlatak di kaki gunung Sabampolulo, di atas ketinggian 1500 meter dari permukaan laut sehingga biasa juga disebut “negeri di awan” oleh wisatawan yang datang berkunjung.  Hawa sejuk dan dinginnya udara dapat dirasakan jika berada disini. Di Desa yang baru ditetapkan sebagai desa wisata ini, anda dapat menyaksikan panorama alam pegunugan serta berbagai aktifitas masyarakat suku asli pulau Kabaena yang sedang bercocok tanam dan memasak gula aren. Selai itu, terdapat sebuah peninggalan sejarah yakni  sebuah benteng pertahanan yang tersusun dari bebatuan dan sebuah air terjun dengan ketinggian 180 meter. Akses menuju desa ini tidak lah sulit, anda cukup mengendarai kendaraan roda dua atau empat  dari Sikeli dengan waktu tempuh sekitar  1 jam lamanya.


2.          Pulau Sagori

Terlatak dibagian barat Pulau Kabaena dan dapat diakses mengunakan perahu katinting dari pelabuhan Sikeli selama 20 menit. Hamparan pasir putih dan birunya laut  merupakan daya tarik utamanya. Pulau ini jika dilihat dari udara berbentuk bulan sabit dengan terumbu karang berbentuk cincin atol. Sagori yang mempunyai panjang sekitar 1 kilo meter dan lebar 200 meter ini,  dihuni oleh suku bajo dan suku bugis.  Pohon cemara yg tumbuh subur ditengah-tengah pulau dapat membuat anda seolah-olah berada di hutan belantara. Di bagian barat pulau terdapat sebuah bangkai kapal dagang Vereenigde Oostindische  Compagni (VOC)yang tergeletak di kedalaman 5 meter. Jika anda membawa peralatan Snorkling dan diving, anda dapat melakukan snorkling dan menyelam di bagian barat pulau yang topografinya berupa dinding karang yang terjal.

3.          Desa Batuawu


Desa ini terlatak di pesisir bagian selatan pulau Kabaena.  Menuju desa ini anda terlebih dahulu melewati beberapa desa seperti Teomokole, Langkema dan kemudian Batuawu. Sepintas jika anda memasuki desa ini akan takjub melihat rumah-rumah panggung yang tetata begitu rapih. Di desa ini susana kegotong royongan masyarakatnya masih sangat tinggi, sehingga baru-baru  ini masuk nominasi 10 besar desa terbaik se Indonesia. Aktifitas masyarakat disini kebanyakan sebagai PNS, Berkebun, penyadap pohon aren, dan sebagaian nelayan. Di Batuawu, terdapat sebuah pantai bernama pantai lanere yang sering di kunjungi wisatawan lokal pada saat hari libur. Selain itu,  terdapat sebuah perkampungan suku bajo yang masih mempertahankan tradisi hidup mereka yang bermukim di atas laut. Selain itu,  anda dapat menyaksikan matahari terbenam dari atas dermaga kayu yang panjangnnya berkisar 300 meter.


4.     Kampung Bajo di  Baliara dan Sikeli

Sebagai mana halnya di daerah lain, suku bajo di Sikeli dan Baliara bermukim di atas laut. Mereka membentuk komunitas tersendiri dan membuat rumah-rumah kayu diatas laut. Di perkampungan  ini, anda dapat menyaksikan aktifitas kehidupan sehari-hari masyarakat suku bajo yang sebagian hidup mereka di habiskan di laut.

5.          Bukit tele tabis

Jika anda pengemar serial tv teletabis yang sangat populer itu dengan latar perbukitan, mungkin anda dapat menyaksikan kesamaanya  jika berkunjung di bukit tele tabis kelurahan Baliara. Namun,  disini anda tidak akan menemukan boneka tela tabisnya, yang anda dapat jumpai adalah menyaksikan sun rise di balik gunung kars batu sangia dan matahari terbenam di ufuk barat Pulau Kabaena. Aksesnya relatif  tidak sulit yakni dapat di jangkau dengan berkendara roda dua, anda sudah bisa sampai di puncak bukit ini.


6.          Goa Batu Buri

Goa Batu buri terlatak di Desa Lengora Kec. Kabena tengah. Goa ini sudah menjadi tujuan wisata utama di kabaena, sehingga untuk masuk ke goa ini anda harus membayar retribusi.  Sepertinya halnya goa-goa lainnya  di goa ini menyuguhkan pemandangan satalaktik dan satalakmik yang sangat indah. Menuju ke tempat tersebut anda harus mengunakan jasa pemandu lokal.

Selain berbagai objek wisata di atas, Pulau Kabaena masih menawarkan kultur budaya dan makanan khas  masyarakatnya. Pulau yang didiami oleh suku etnis Moronene  ini mempunyai berbagai seni tradisi seperti tari lolo alu, lumense, tari perang momani, dan alat musik bambu yang disebut ore-ore. Makanan tradisonal seperti gula kelapa yang tebuat dari kelapa yang diparut kemudian dicampurkan dengan gula merah.


Tentunya Semua itu dapat anda  saksikan dan nikamati  jika anda berkunjung ke Pulau Kabaena, So! Mari berkunjung ke Kabaena dan menjadikannya desitinasi baru tujuan wisata anda.

Catatan Perjalanan Takabonerate Island Expedition IV Part I


Untuk ke empat kalinya saya mengikuti pagelaran Takabonerate Islands Ekpedition yang diselenggarakan oleh dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Selayar. Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk mempromosikan pariwisata bahari Selayar, khusunya wisata diving dengan mengambil icon Takabonereta yang merupakan karang atol terbesar ke 3 di nunia setelah Suvadiva di Maldive dan Kwajalein di kepulauan Marshal.

TIE pertama, diikuti oleh berbagai peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, termasuk artis Nadin Candrawinata, Lusi Rahmawati, Putri Patricia, dan pejabat di SKPD  dilingkup Prop. Sulawesi Selatan. Dengan menumpung KRI Makassar, dari Makassar menuju Pulau Tinabo, salah satu pulau di kawan TN. Takabonerate.  Tie ke-II tetap di helat di kawasan TN. Takabonerate bertempat di Pulau Rajuni, dan TIE ke III dilaksanakan di Pulau  Jinato, juga masih di  Kawasan Taman Nasional Takabonerate. Untuk TIE ke IV ini seluruh rangkain acara, dipusatkan di  Pulau Selayar. Nantinya akan saya hadiri lagi denga live board dari Makassar. Tapi jangan membayangkan seperti live board ala kapal pesiar yahh.... 

Mari bercerita!!!!
Tanggal 18 November 2012

Biasanya saya bangun jam 10 pagi!! kali ini saya harus bangun lebih awal untuk mempersiapatkan perlengkapan yang akan saya bawa selama melukan perjalanan selama 4 hari  di Kabupaten Kepulauan Selayar. Setelah pecking beres, pukul 08.05 saya bergegas munuju dermaga rakyat Kayu bangkoa.  15 menit perjalanan dari rumah, sampailah saya di dermaga tersebut. Tampak terlihat aktifitas masyarakat pulau yang baru datang dari beberapa pulau di sekitar Makassar. Termasuk kapal Novita Sari yang akan kami gunakan, telah bersandar  dari pulau Barrang lompo. Aktifitas didermaga yang cukup padat, membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya pun bergegas menghampiri  sebuah warung kecil di pinggir dermaga untuk duduk sambil memesan  kopi susu.

Kapal KM. Novita Sari, yang akan digunakan



Waktu sudah menunjukan pukul 08. 55 dan aktifitas masyarakat didermaga mulai berkurang, sayapun menyuruh anak buah kapal KM. Novitasari mengangkut perlengkapan daving di gudang penyimpanan alat Spermonde Dive Center yang di simpan juga di Kayu Bangkoa.  Hampir semua perlengkapan diving di keluarkan, yakni 2 buah kompresor pengisi tabung, 40 buah tabung, 10 set alat SCUBA, dan 30 set pemberat. 

Suasana diatas kapal
Ohh ia,  trip yang akan saya ikuti ini  merupakan trip penyeleman yang dilaksanakan  POSSI Sulsel yang bertujuan untuk menyukseskan event tahunan Takabonerate Island Expedition.  Jumlah peserta yang ikut trip  ini adalah 30 orang. Namun tidak semua peserta yang menyelam, ada beberapa peserta hanya ikut untuk snorkling saja. Robongan kami tidak semua ikut jalur laut,  ada yang melalui jalur darat, dan udara. Nanti keesokan harinya, sesampianya kami di dermaga Patumbukang, pantai timur Selayar baru mereka bergabung.

Pukul 09.05, semua peserta sudah kumpul dan barang-barang pun sudah dimuat ke atas kapal Novitasari, termasuk sebuah freser berukuaran 2 x 1 meter dan bahan konsumsi kami selama trip nantinaya.  Pukul 11.45. Kapal Novita Sari, dengan sang kapten, H. Daring mulai pelan-pelan meninggalkan dermaga kayu bangkoa. Menuru H. Daring, waktu tempuh untuk sampai di Kota Benteng sekitar 10-12 jam lamanya dengan  kecepatan kapal  8 knot. Rute perjalanan kami adalah menyisir sepanjang pesesir Selatan pulau sulawesi  sampai di Kabupaten Jeneponto kemudian langsung memotang menuju Pulau Selayar bagian barat.

Berhubung kami semua belum makan siang,  sang koki yang kami bawapun sudah tau akan hal itu, sehingga dia sudah mempersiapkan makan siang. Menu makan hari ini adalah Ayam goreng + sayur lodeh + nasi. Kami semua pun  makan  siang rame-rame diatas kapal.  

Tidak terasa waktu sudah mulai berganti, dimana matahari sudah mulai tengelam di ufuk barat, dengan memancarkan rona merahnya ke arah kami. Moment tersebut tidak kami lewatkan untuk untuk foto narsis.  Cuca yang begitu bersahabat dan ombak yang teduh membuat perjalanan kami sangat menyenangkan sehingga tidak terasa, dari kejuahan sinar lampu yang terang benerang terlihat. Semakin dekat sinar tersebut semakin nampak jelas yang menandakan kota Benteng Selayar sudah dekat. Tepat pukul 24.00 kapal kami bersandar di dermaga  Benteng.  Hampir satu jam lebih kapal kami bersandar, lalu perjalanan menuju pantai timur kami lanjutkan. Berhubung sang kapten kapal tidak tau  jalur, lantaran banyaknya karang gosong,  kami  pun mengikuti salah satu kapal panitia TIE yang mengangkut perlengkapan diving yang kebetulan akan menuju pantai timur.  Waktu sudah larut mata saya pun mulai tertutup 
dan tidurr dehhh!!!
Sunset

Tangal 19 November 2012

Sinar mataha pagi yang terbit di ufuk timur terus memancarkan sinarnya, sehingga saya pun terbangun dari tidur.  setelah melihat jam tangan saya,  ternyata sudah jam 06.30. Sambil melihat suasana sekitar dari balik jendela kapal. Humm... ternyata  kami sudah sampai di pantai timur selayar bagian selatan, tepatnya di Pantai Pinang.  Lalu saya bergegas menghampiri  kapten kapal untuk segera berlabuh di pantai Pinang.  Berhubung karena masih di area resot selayar diver rosert, dimana  tidak diperbolehkan membuang jangkar,  kapal kami pun dibiarkan bergerak mengikuti arus laut saja. 
Pantai timur  di pagi hari

Entry
Waktu sudah menunjukan pukul 07.30, sinar matahari mulai menyinari birunya laut, sehingga tampak dari atas warna-warni terumbukarang. Kami pun bersiap untuk melakukan diving sekali sebelum menjemput peserta lainya.  Nama dive site yang kami akan selami adalah Conyon dengan bentuk topografi drop off. Hailaight spot ini adalah banyak di temui over hange dan gua-gua karang kecil.  Setelah semua peserta telah gear up, satu persatu diver melakukan entri dengan tehnik jaen step. blubb...blubb..blubb...kami semua pun memasuki alam bawah  menikmati  pemandagan dibawah sana. Penyelaman dilakukan selama satu jam. Dipenyelaman pertama  ini, kami sanggat beruntung dapat melihat gerombolan ikan tuna, bamhead, napoleon dan gerombolan jaen trevally, dan sea turtle. Kalo visiblity dan coral jangan di tanya, kereeenn   abis!!!.
Entry

Fish & diver

Penyelaman pertama telah kami lakukan, dan waktu sudah menunjukan pukul 8.30. kami pun bergegas menuju dermaga patumbukang menjemput beberapa rombonagan kami. dari 10 peserta 7 orang dari Jakarta, dan selebihnya pa' Januar,  Bakri, dan om ancha. Waktu sudah menunjukan pukul 11.05, kami pun menuju lokasi penyelaman ke dua. Dive site yang kami tuju   adalah Kolo-kolo. hailaigh menyelam di site ini adalah banyak ditemukan overhage dan goa-goa karang kecil. Penyelaman kedua  kami ini, dibagi menjadi dua grup. Setiap grup tediri dari 10 orang penyelam degan buddy masing-masing.  Lebih dari 1 jam kami melakukan penyelaman, kemudian naik kepermukaaan.
Dermaga Patumbukang

Gear Up
Schooling fish

Overhange
Survace interval dilakukan selama 2 jam, kemudian melakukan penyelaman  ketiga. Nama dive site yang akan kami selami lagi  adalah Shark Poin. Hailaigh spot ini adalah, ikan hiu jenis grey reef shark dan white tip  Namun pada saat melakukan penyelaman, kami belum beruntung melihatnya.   Waktu sudah menunjukan pukul 16.30, penyelaman telah selesai, dengan cerita masing-masing peserta yang berbeda-beda. Kami pun, bergegas menuju dermaga untuk berlabuh dan bermalam di atas kapal.

Makan siang

Drop off

Sea Turtle

Setelah makan malam, beberapa dari peserta,  akan melakukan penyelaman malam  Setelah ditanya yang mau nigh dive ternyata hanya  5 orang yang mau yakni saya, pa, januar, putri, agam, panji. sedangkan lainya pada istrahat mempersiapka penyelaman keesokan harinya. Berhubung kapal kami terlalu besar. kami pun meminta kapal nelayan yang benyak bersandar di dermaga patumbukang untuk mengantar kami kelokasi penyelaman dengan imbalan 30 liter bahan bakar solar. Kami pun bergegas menuju lokasi penyelaman malam kami yakni di pantai pinang. setelah sampai kami pun langsung nyebur kelaut. Biota yang kami dapat pada malam itu adalah 4 ekor nudibranch berukuran besar yang tentunya belum pernah saya liat selama ini. Kononon merupakan ciri khas melakukan penyelaman malam di pantai timur Selayar. Hampir 1 jam kami menyelam kami pun mengakhiri penyelaman dan bergegas menuju dermaga untuk istrahat.....

Bersambung………..